Kamis, 04 Oktober 2012

HAMA TANAMAN PANGAN



A.  HAMA TANAMAN PADI
 1.  Hama Wereng Batang Padi Coklat
a.      Morfologi  
- Telur
Ukuran: panjang 0,99 mm dan lebar 0,20 mm. 
Bentuk:  seperti bulan sabit, menyempit pada bagian ujungnya. 
Salah satu ujung telur bersatu  dan ujung lainnya bebas.
Warna:   Telur berwarna keputihan ketika diletakkan. 
Pada perkembangan selanjutnya terdapat bintik mata berwarna merah pada bagian kepala ketika akan menetas. 
 -  Nimfa
Nimfa mempunyai  lima instar
1.      Nimfa instar pertama berukuran panjang 0,97 mm dan lebarnya 0,37 mm. 
Mata majemuk kecil dan berwarna kecokelatan. 
Antena mempunyai 0 –2 sensoria.
Tungkai berwarna cokelat terang 
tubuhnya berwarna putih krem dengan batas warna cokelat. 
2.      Nimfa instar kedua mempunyai panjang 1,29 mm dan lebar 0,53 mm. 
Mata berwarna agak merah.  dengan abdomen.
 Ruas abdomen secara keseluruhan berwarna putih kecokelatan dan agak membengkak, ruas thorak lebih cokelat. 
Antena mempunyai 2 – 3 sensoria pada bagian dorsal. 
Tungkai berwarna cokelat,
tubuh oval dan berwarna putih kecokelatan. 
3.      Nimfa instar ketiga mempunyai panjang 1,42 mm dan lebar 0,67 mm. 
Bentuk tubuh oval dengan warna kecokelatan. 
Mata merah tidak mengkilap. 
Sayap dasar kelihatan. 
Antena mempunyai 3 – 4 sensoria pada permukaan dorsal. 
4.      Nimfa instar keempat berukuran panjang 1,99 mm dan lebar 1,00 mm. 
Kepala meluas dengan vertek berwarna cokelat. 
Ocelli nampak seperti titik hitam  di atas mata majemuk. 
Mata majemuk menonjol dan berwarna merah tidak mengkilat. 
sayap dasar menutupi dua ruas pertama abdomen dan kadang-kadang ruas ketiga. 
Antena mempunyai 5 – 6 sensoria pada bagian permukaan dorsal. 
Abdomen membengkak dengan gambaran cokat tidak beraturan yang mana nampak pada ruas pertama sampai ruas ke tujuh.  
5.      Nimfa instar kelima panjangnya kira-kira  2,69 mm dan lebar 1,25mm. 
Tubuh berwarna cokelat gelap dan kuat. 
Mata biru abu-abu. 
Sayap dasar menutupi penuh tiga ruas abdomen pertama. 
Antena mempunyai 7 – 9 sensoria pada bagian dorsal. 
·         -  Imago

  1. Imago wereng batang padi cokelat mempunyai dua bentuk sayap, yang bersayap panjang disebut   makroptera dan bersayap pendek disebut brakiptera.  
  2. Wereng makroptera jantan dan betina mempunyai panjang kira-kira 3,9 mm dan 4, 6 mm.
  3. Tubuh berwarna cokelat dengan mata agak kebiruan.  Kepala, pronotum dan mesonotum berwarna kecokelatan.  
  4. Bagian ventral berwarna cokelat, ruas lainnya berwarna cokelat terang.  
  5. Tungkai cokelat terang dengan tarsal claw hitam.  
  6. Tegmen transparan dengan vena gelap, pretostigma hitam, sayap hyalin dengan vena gelap


       b.       Bioekologi
·      Wereng makroptera migrasi ke persawahan segera setelan bibit ditanam.
·      Generasi berikutnya yang utama terdiri dari betina brakiptera  dan jantan makroptera.
·      Perkembangan selanjutnya dari betina makroptera dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kepadatan nimfa, menurunnya kualitas tanaman inang, panjang hari dan temperatur yang rendah.
·      Ukuran tubuh , siklus hidup, fekunditas dan longevity  dipengaruhi oleh temperatur, status makanan dan ketahanan tanaman inang. 
·      Di bawah kondisi optimal (pada tanaman inang peka dengan temperatur 25 – 30 o C betina brakiptera meletakkan telur 300 – 400.
·      Makroptera betina dapat meletakkan telur kira-kira 100. 
·      Longevity  imago  berkisar 10 – 20 hari.  Telur diletakkan dalam 2 – 12  kelompok pada seludang daun atau tulang daun.  Telur menetas setelah 6 – 9 hari diletakkan. Terdapat 5 instar nimfa masing-masing instar berkisar 2 – 4 hari.  

2.      Hama  Penggerek Batang Padi
·         Ada enam jenis penggerek batang padi yang telah diketahui menyerang padi di Indonesia yaitu Scirpophaga incertulas (Walker), S. innotata (Walker), Sesamia inferens (Walker), Chilo supressalis (Walker), C. polychrysus (Meyrick) dan  C. auricilius (Dudgeon).  Jenis yang terakhir itu dilaporkan lebih memilih tanaman tebu sebagai inang
·         Salah satu jenis penggerek batang padi yang paling dominan dan penyebarannya sangat luas ialah S.  incertulas atau penggerek batang padi kuning.
·         Hal itu didukung oleh kondisi lapangan yang menguntungkan bagi perkembangan hama tersebut, diketahui hama tersebut hanya menyerang tanaman padi sedangkan di Indonesia tersedia tanaman padi sepanjang tahun. Tersedianya sumber pakan berupa tanaman padi terus-menerus dan umur tanaman yang berbeda-beda merupakan penyebab terjadinya serangan penggerek batang padi kuning sepanjang musim tanam padi (Kalshoven, 1981).
      a.       Morfologi
·         Stadium telur
Ø  Telur berwarna putih krem, pipih dan oval. 
Ø  Sebelum menetas  telur menjadi gelap hingga merah ungu.
Ø  Telur hama ini diletakkan berkelompok di permukaan bawah daun dan ditutup dengan lapisan beludru berwarna coklat kekuningan. 
Ø  Jumlah setiap kelompok antara 50 - 150 butir. 
Ø  Telur pada mulanya kelihatan jernih selanjutnya gelap. 
Ø  Lama stadium telur berkisar antara 4 – 5 hari di dataran rendah sedangkan di dataran tinggi mencapai lebih dari 14 hari .
Ø  Kelompok telur diletakkan secara acak pada daun dan pelepah daun. 
Ø  Suhu optimal untuk penetasan telur adalah 24 - 32 ° C  pada kelembaban nisbi 85 %.  Pengaruh cahaya dapat memperpendek umur telur.
Ø  Batas suhu rendah untuk telur PBPK ialah 13°C.  Makin tinggi suhu (30 - 35°C) menyebabkan stadium telur lebih lama. 
Ø  Apabila suhu tinggi dan kelembaban udara kurang dari 70% akan terjadi mortalitas telur cukup tinggi. 
Ø  Telur akan menetas pada pagi hari dan  mencapai puncaknya senja hari .
·         Stadium larva
Ø  Larva yang keluar dari telur tinggal di bawah lapisan yang menyerupai beludru cokelat kekuningan selama satu sampai dua hari, kemudian larva itu keluar melalui lubang gerekan pada lapisan beludru atau melalui dasar kelompok telur, dengan cara melubangi daun padi. 
Ø  Ada juga larva yang menggelantung dengan benang sutera, dan tersebar terbawa angin atau jatuh ke permukaan air atau mungkin tersangkut pada tanaman.
Ø  Larva instar pertama berukuran panjang 1,5 mm dan lebar 0,5 mm.  Badannya berwarna putih pucat, kepala dan protorak berwarna gelap. Larva instar pertama berganti kulit setelah 5 – 6 hari. 
Ø  Larva instar kedua berukuran panjang 3 mm dan lebar 0,5 mm.  Bagian tubuh ventral berwarna putih, kepala dan protorak berwarna cokelat terang. Larva instar kedua berlangsung 6 – 8 hari. 
Ø  Larva instar ketiga berukuran panjang 3,5 – 4,0 mm berlangsung 5 – 7 hari., berwarna putih kotor dengan garis gelap di antara  ruas-ruas abdomen.  
Ø  Larva instar keempat berukuran   panjang 5 mm dan lebar 1 mm dan berlangsung 10 – 12 hari berwarna kuning kotor. 
Ø  Larva instar kelima berkisar 9 – 10 hari dengan panjang 8 – 9 mm dan lebar 1,5 – 2,0 mm, berwarna putih dengan kepala cokelat atau kuning oranye. 
Ø  Larva instar keenam 7 – 10 hari berukuran panjang 12 mm dan lebar 2 mm dengan warna seperti instar kelima. 
Ø  Apabila larva tumbuh penuh ukurannya bisa mencapai panjang 20 mm berwarna putih atau putih kekuningan.
Ø  Larva yang berhasil sampai instar terakhir akan tinggal di dalam batang atau di pangkal batang padi. 
Ø  Larva membuat lubang keluar di pangkal ruas dekat permukaan tanah. 
Ø  Lubang ditutup dengan benang-benang sutera demikian rapat sehingga air tidak dapat masuk. 
Ø  Lubang ini berfungsi sebagai jalan keluar imago. 
Ø  Stadium larva berlangsung 23 – 33 hari.
Ø  Dalam satu batang padi hanya terdapat satu larva.
·         Stadium pupa
Ø  Pupa berwarna kekuningan, dibentuk dalam kokon berwarna putih. 
Ø  Periode pupa selama 8 - 14 hari. 
Ø  Pupa dapat ditemukan pada bagian paling dasar tanaman, kadang-kadang berada di bawah permukaan tanah. 
Ø  Pupa dilapisi kokon tipis berwarna putih pucat kemudian berubah cokelat muda .
·         Stadium imago
Ø  Imago betina, sayap depan berwarna kuning jerami dengan titik hitam pada bagian tengahnya dan sayap belakang berwarna pucat.
Ø  Pada abdomen terdapat sisik dan rambut . 
Ø  Pada imago jantan, titik hitam yang terdapat pada sayap depan kelihatan samar-samar sedangkan pada sayap belakang berwarna putih.
Ø  Imago jantan berukuran 18 - 23 mm dan imago betina berukuran 24  - 36 mm .
Ø  Imago PBPK aktif pada malam hari, tertarik cahaya terutama sinar ultra violet dan mempunyai daya terbang cukup jauh.
Ø  Imago muncul pada malam hari pukul 19.00 – 21.00,  pada siang hari bersembunyi di bawah permukaan daun atau pangkal batang padi.
Ø  Perkawinan terjadi hanya satu kali dalam satu siklus hidup.

       b.       Bioekologi
·      Hama ini banyak terdapat di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.
·       PBPK tersebar di daerah tropis dan di daerah sedang dengan temperatur di atas 10°C dan curah hujan tahunan lebih dari 1000
·      Banyak dijumpai di daerah yang banyak turun hujan dan daerah yang terdapat tanaman padi sepanjang tahun seperti daerah pertanian di Indonesia.
·      Periode kritis bagi larva terjadi pada saat baru menetas dari telur dan waktu penetrasi ke dalam jaringan tanaman inang. 
·      Hujan lebat dapat mencuci larva dari tanaman bila belum berhasil masuk ke dalam jaringan tanaman. 
·      Larva kadang-kadang keluar dari batang dan pindah ke batang lain untuk mencari tunas yang lebih sesuai.
·      Larva kecil mudah tertangkap oleh predator seperti laba-laba dan lain-lain
·      Tanaman padi menjadi rentan pada saat tumbuh memanjang sebab jaringan yang baru tumbuh belum terlapisi silika. 
·      Tanaman yang batangnya tinggi dan banyak dipupuk N lebih rentan.
·       Pada saat tanaman tua,  larva instar pertama lebih suka menggerek pelepah daun karena batang sudah keras sehingga mortalitas larva tinggi.  Meskipun 75 % larva manpu menggerek batang padi, dilaporkan hanya 10 % yang berhasil berkembang menjadi imago.
·      Hama ini menyebabkan mati pucuk pada fase vegetatif, mula-mula daun pucuk kuning, layu, kering dan mudah dicabut.  Gejala ini dikenal dengan sebutan sundep atau mati puser atau deadheart. 
·      Serangan pada fase generatif menyebabkan malai tegak berwarna putih dan biji hampa.  Gejala ini dinamakan beluk atau whiteheart. 
·      Kematian tanaman tersebut disebabkan larva menggerek batang bagian bawah sehingga terputus dan tidak dapat mengalirkan zat hara dari tanah ke bagian lain .
2.       HAMA TANAMAN KEDELAI
       2.1.  Lalat Kacang (Ophiomya phaseoli= Agromyza phaseoli= Melanogromyza phaseoli)
·         Morfologi:
Ø Telur:
-           Diletakkan di dalam lubang tusukan diantara epidermis atas dan epidermis bawah keping biji (kotiledon) dan daun.
-          Disisipkan dalam jaringan mesofil yang diletakkan terpisahdekat pada pangkal kotiledon atau pangkal helai daun pertama dan kedua.
-          Telur pertama diletakkan pada tanaman umur 4 - 5 hari setelah tanam.
-          Berwarna putih berkilau seperti mutiara.
-          Berbentuk lonjong dengan ukuran 0,31 mm dan lebar 0,15 mm.
-          Telur menetas 48 jam setelah diletakkan.
-          Di Pegunungan masa telur mencapai 3 – 4  hari..
Ø Larva:
-           Ramping dan memanjang, pada stadium akhir mencapai panjang 3.75 mm.
-          Larva yang baru keluar dari telur berwarna putih bening.
-          Larva stadia akhir berwarna kekuningan.
-          Stadia larva berkisar 7 – 11 hari, dengan tingkat kematian44%.
Ø  Pupa:
-     Dibentuk di bawah epidermis kulit batang atau kulit akar pada pangkal batang atau pangkal akar.
-      Mula-mula berwarna kekuningan, kemudian berubah kecokelat pada umur yang lebih lanjut.
-      Panjang pupa 3 mm.
-     Stadia pupa berkisar 7 – 13 hari dengan rata-rata 9 hari.
·         Bioekologi
Ø     Serangan terjadi setelah tanaman muncul di atas permukaan tanah.
Ø Gejala awal berupa bintik-bintik putih pada keeping biji, daun pertaman atau kedua.
Ø Bintik tersebut merupakan bekas tusukan ovipositor dan kemungkinan sebagai bekas mengisap cairan daun untuk makanan imagonya.
Ø Gejala serangan larva pada keping dan daun pertama atau kedua berupa alur atau garis lengkung berwarna coklat yang merupakanliang gerekan larva yang berlangsung selama ± 2 hari.
Ø Gejala serangan sudah nampak pada 7 hari setelah tanam.
Ø Larva yang menggerek pada keeping biji atau daun akan menuju ke batang.
Ø Cara membuat liang gerek juga melengkung sehingga berbentuk gambaran spiral mengelilingi batang.  Gerekan ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop.
Ø Sabagai akibat terputusnya jaringan kulit, akan akan mati sehingga tanaman layu, kering dan mati karena akar tidak berfungsi normal untuk mengisap air dan unsur hara dari dalam tanah.
Ø Kematian tanaman berlangsung selama 16 hari, dimulai 14 – 30 hari setelah tanam. 
Ø Tanaman yang diserang pada umur 4 – 10 hst akan mengalami kematian.
Ø Tanaman inang lain: tanaman kekacangan

        2.2. Kutu Kebul (Bemisia tabaci)
·         Morfologi:
Ø Telur:
- Warna kuning terang, bertangkai dan umumnya diletakkan pada permukaan bawah daun.
- Stadia telur  6 hari.
Ø Nimfa
-  Nimfa instar 1 bentuknya bulat telur an pipih, warna pucat sampai kuning kehijauan.  Tungkainya masih berfungsi.
-  Nimfa instar 2 dan 3 melekat pada daun selama masa pertumbuhan dan perkembangannya.
- Stadium nimfa rata-rata 9 – 10 hari.
Ø Imago
-  Berukuran kecil.
- Tubuh berwarna kuning, sayap ditutupi lapisan lilin yang bertepung.

·         Bioekologi:
Ø  Untuk makan dan bertelur imago memilih daun-daun muda.
Ø  Imago lebih menyukai daun-daun yang terinfeksi oleh virus sebagai tempat untuk meletakkan telur dibanding daun yang sehat.
Ø  Jumlah rata –rata telur pada daun sehat 14 butir sedangkan pada daun yang terserang virus 77 butir.
Ø  Kerusakan langsung disebabkan oleh isapan imago dan nimfa.
Ø  Kutu kebul juga menghasilkan embun madu dan merupakan media bagi tumbuhnya cendawan jelaga. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis tidak berlangsung norml.
Ø  Kutu kebul juga bisa sebagai vektor virus yang merusak tanaman kedelai
Ø  Tanaman inang lain: tanaman family Compositae, Cucurbitaceae, Cruciferae, Solanaceae, dan Leguminosae.
 
      2.3. Kumbang daun Kedelai (Phaedonia inclusa)
·         Morfologi:
Ø  Telur:
-  Bentuk bulat panjang.
- Warna kuning sampai kuning pucat.
- Panjang 1,33 mm
- Diletakkan berkelompok pada bagian bawah daun berkisar 5 – 10 butir/kelompok.
- Stadia telur 4 hari
Ø  Larva:
-  Larva yang baru menetas diam ditempat telur diletakkan, kemudian pindah ke pucuk, bunga, polong dan diam ditempat itubselama perkembangannya.
- Stadia larva 8 – 12 hari.
-  Larva instar terakhir menuju ke dalam tanah dan berkepompong.
Ø  Pupa:
-  Pupa berwarna kuning pucat, berbulu dan panjang  3 – 5 mm
- Pupa dibentuk dalam sela-sela bongkahan tanah dan untuk perkembangannya membutuhkan kelembaban tertentu.
- Stadia pupa  rata-rata 8 hari.
Ø  Imago:
- Kepala dan thorak berwarna kemerah-merahan, elytra hitam kebiru-biruan dan mengkilap.
-  Elitra bagian pinggir berwarna kuning.
-  Dengan makanan yang cukup, imago dapat hidup rata-rata 4 bulan, maksimal 7 bulan.
-  Imago jantan panjang 4 – 5 mm, imago betina 5 – 6 mm.

·         Bioekologi :
Ø  Hama ini dapat merusak pertanaman kedelai sejak tanaman muncul di atas permukaan tanah sampai menjelang panen.
Ø  Bila tanaman tersentuh imago akan menjatuhkan diri dan diam seakan-akan mati.
Ø  Baik imago dan larvanya merusak pucuk, tangkai daun muda, bunga, polong.
Ø  Serangan pada kecambah dapat menyebabkan tanaman mati.
Ø  Serangan pada tanaman yang lebih tua atau pada fase pembungaan mengakibatkan berkurangnya bunga dan polong yng terbentuk.
Ø  Serangan pada fase pembentukan polong dan pengisian biji, maka jumlah polong dan biji akan berkurang serta kualitas biji menurun.
Ø  Daur hidup  sampai imago meletakkan telur pertama adalah 20 – 21 hari.

·         Morfologi:
Ø  Telur:
-   Diletakkan pada permukaa bawah daun secara berkelompok.
-  Setiap induk betina menghasilkan telur ± 2000 butir, yang berkisar antara 4 – 8 kelompok.
- Telur ditutupi dengan bulu-bulu berwarna merah sawo.
-  Jumlah telur pada tiap kelompok berkisar 30 – 7000 butir.
-  Lama stadia telur 3 hari.
Ø  Larva :
-   Larva muda berwarna kehijauan dengan bintik hitam pada abdomen.
- Larva tua berwarna abu-abu gelap atau coklat dengan lima garis sepanjang badan berwarna kuning pucat atau kehijauan.
- Lama stadia larva 13 – 16 hari.
·         Bioekologi:
Ø  Larva yang baru menetas sementara tinggal di sekitar kulit telur, memakan epidermis daun bagian bawah.
Ø  Mula-mula larva merusak daun secara bergerombol atau berkelompok dan setelah daun-daun pada rumpun tersebut habis larva akan berpencar untuk mendapatkan makanan pada rumpun disekitarnya.
Ø  Kerusakan oleh larva muda yang makan secara bergerombol menyebabkan bagian daun yang tersisa hanya berupa tulang-tulang daun dan epidermis bagian atas.
Ø  Dari jauh daun tanaman akan tampak keputih-putihan.
Ø  Umumny akan dijumpai larva muda di permukaan bawah daun.
Ø  Larva dewasa dapat makan tulang daun yang muda, tetapi tidak pada daun yang tua.
Ø  Larva juga memakan polong muda.
Ø  Apabila larva yang merusak dalam jumlah besar hama ini dapat merusak seluruh daun tanaman.
Ø  Tanaman inang lain : tembakau, kacang tanah, ketela rambat, cabe, bawang merah, kacang hijau dan jagung.
    


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar